Nilai Perjuangan Untuk Bisa Survive

NILAI PERJUANGAN UNTUK BISA SURVIVE

Oleh: Misbah, S.Ag*

Untuk bisa melaksanakan tugas pokoknya (Menerima, memeriksa, dan mengadili dan menyelesaikan perkara) dan menjalankan fungsinya (menegakan hukum dan keadilan) secara maksimal, Pengadilan Agama perlu mengadakan instrospeksi kedalam secara keseluruhan bahkan bila perlu diadakan “pembongkaran” dan penyegaran sistem yang selama ini berjalan, ini mutlak harus dilakukan untuk bisa survive dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.

Kalau kita menganalogikan Pengadilan Agama sebagai sebuah Marketing Company, maka menurut Hermawan Kertajaya dalam bukunya “Marketing Plus 2000 Siasat untuk memenangkan persaingan Global”, sebuah Marketing Company setidaknya harus mempunyai tiga ciri yaitu Brand, Service, dan Procces untuk bisa survive di era persaingan yang makin ketat ini, begitu juga dengan Pengadilan Agama untuk bisa survive dalam melaksanakan tugas dan fungsinya harus mempunyai ketiga ciri tersebut.

1. Brand (Citra Positif)

Dengan banyaknya kasus yang menimpa aparat penegak hukum baik dari kalangan Pengadilan maupun dari kalangan Kejaksaan belakangan ini, menimbulkan image Pengadilan menjadi negatif di kalangan masyarakat, sekarang ini orang menjadi antipati ketika mendengar kata pengadilan, karena yang ada dibenak mereka pengadilan adalah sebuah lembaga yang diisi dengan orang-orang yang mudah disuap, prosedur yang berbelit-belit serta biaya yang mahal (High Cost) bila beracara di pengadilan. Untuk bisa mengembalikan citra pengadilan Khususnya Pengadilan Agama di perlukan kesungguhan dan niat yang ikhlas dari semua komponen yang ada di Pengadilan Agama, perlunya kembali menyegarkan niat dan orientasi dalam bekerja di Pengadilan Agama. Seorang hakim dalam menjalankan amanat untuk menegakan keadilan haruslah mengadili dengan seadil-adilnya, menempatkan hukum sesuai dengan tempatnya. Begitu juga dengan unsur-unsur yang lain yang ada di Pengadilan Agama dituntut untuk kerja secara profesional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, dan yang tepenting adalah semua unsur yang ada di Pengadilan Agama harus menerapkan kejujuran dalam segala hal, baik dalam bekerja maupun dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, sehingga tercipta aparat yang bersih dari mental korupsi dan senang menerima suap. Orang yang menyuap dan orang yang disuap dua-duanya masuk Neraka (Al Hadits).

Dengan merekondisi orientasi dan penyegaran kembali niat dari semua unsur yang ada di Pengadilan Agama diharapkan dapat mengembalikan citra positif pengadilan di mata masyarakat, sehingga ketika masyarakat mendengar kata pengadilan yang ada dibenak mereka adalah satu lembaga yang benar-benar menegakan hokum dan keadilan dan memberikan pelayanan yang prima dengan cara cepat mudah dan biaya ringan. Brand Image yang positif inilah yang diperlukan oleh pengadilan untuk bisa survive dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya.

2. Service (Pelayanan Prima)

Ada dua istilah yang berkaitan dengan pelayanan yang perlu diketahui yaitu kata melayani dan pelayanan, melayani adalah “membantu menyiapkan (mengurus) apa yang diperlukan seseorang”. Sedangkan pengertian pelayanan adalah: “usaha memenuhi kebutuhan orang lain” (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 1995).

Pelayanan pada dasarnya adalah kegiatan yang ditawarkan oleh organisasi atau perorangan kepada konsumen (Costumer/yang dilayani) yang bersipat tidak berwujud dan tidak dapat dimiliki, pelayanan bersipat tidak dapat diraba, pelayanan sangat berlawanan sipatnya dengan barang jadi. Pelayanan itu kenyataannya terdiri dari tindakan nyata dan merupakan pengaruh yang sipatnya adalah tindakan sosial.

Dalam pelayanan, antara produksi dan konsumsi tidak dapat dipisahkan secara nyata karena pada umumnya kejadiannya bersamaan dan terjadi di tempat yang sama.

Tingkat kepuasan para pencari keadilan dengan pelayanan yang diberikan oleh Pengadilan Agama tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi diukur hanya dengan tingkat perasaan pencari keadilan itu sendiri. Para pencari keadilan diusahakan dapat merasakan suatu tingkat kepuasan yang didapatkan dari pelayanan yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di Pengadilan Agama, sesuai dengan prinsip pengadilan yaitu cepat, mudah dan biaya ringan.

Pengertian dari pelayanan prima itu sendiri adalah terjemahan dari excellent service, yang secara harpiah berarti pelayanan yang sangat baik atau yang terbaik, yang sesuai dengan standar yang berlaku atau yang dimiliki oleh instansi yang memberikan pelayanan. Apabila instansi yang memberikan pelayanan belum memiliki standar yang baku dalam memberikan pelayanan, maka pelayanan disebut baik atau sangat baik atau menjadi prima manakala dapat atau mampu memuaskan pihak yang dilayani. Jadi yang dimaksud dengan pelayanan prima di Pengadilan Agama adalah pelayanan yang dapat memberikan rasa puas kepada masyarakat pencari keadilan yaitu dengan cara pelayanan yang mudah cepat dan biaya ringan.

Di Pengadilan Agama ada satu bentuk pelayanan prima yang sangat membantu masyarakat pencari keadilan khususnya yang letak geograpis wilayahnya jauh dari kantor Pengadilan Agama yang disebut dengan sidang keliling, yaitu dengan cara aparat Pengadilan Agama yang datang secara proaktif mendatangi pencari keadilan secara berkala di tempat yang sudah ditentukan. Ini merupakan excellent service yang sangat luar biasa yang dilakukan Pengadilan Agama bagi masyarakat pencari keadilan yang dampaknya sangat jelas bagi peningkatan kesadaran hukum masyarakat, serta dapat menghapuskan anggapan bahwa beracara di Pengadilan Agama harus dengan prosedur yang berbelit-belit serta biaya mahal. Mudah-mudahan program ini dapat dikembangkan lagi di masa yang akan datang sehingga masyarakat luas dapat merasakan dampaknya secara lebih nyata.

3. Procces (Kerjasama Tim)

Untuk lebih bisa survive dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya semua unsur yang ada di Pengadilan Agama jangan hanya sebagai fungsi-fungsi saja tetapi harus merupakan sebuah proses atau sebuah tim. Pengadilan Agama yang menganggap dirinya hanya terdiri dari beberapa fungsi saja, sering merasakan bahwa pelayanan terhadap masyarakat sering berjalan tidak lancar, mengapa? Karena setiap fungsi tidak peduli terhadap yang lain, bahkan mereka tidak mengerti “bahasa” satu sama yang lain. Seperti banyak istilah-istilah dan aplikasi di setiap bagian, memang tidak mesti semua dikuasai tetapi minimal mengerti sehingga masing-masing saling memahami antara satu sama yang lain, seperti bagian keperkaraan memahami prosedur kerja yang ada di bagian kesekretariatan begitupun sebaliknya. Sehingga tidak berjalan sendiri-sendiri tetapi saling ketergantungan antara satu dengan yang lainnya. Yang menjadi ujung tombak dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat di Pengadilan Agama adalah bagian keperkaraan, ini tidak berarti bagian-bagian yang lain menjadi tidak mempunyai andil dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, bagian kesekretariatan menjadi back up bagi keperkaraan dengan cara mengatur kondisi rumah tangga kantor, dan memberikan pelayanan kepada para pegawai di Pengadilan Agama seperti dalam masalah keuangan dan kepegawaian, serta mengatur tersedianya keperluan perkantoran seperti yang dilakukan oleh bagian umum.

Semua unsur yang ada di Pengadilan Agama harus merupakan sebuah tim yang epektif untuk bisa memberikan pelayanan yang prima kepada pencari keadilan, dan ciri-ciri dari tim yang epektif itu adalah:

A. Anggota menyadari ketergantungan diantara mereka dan memahami bahwa sasaran pribadi maupun tim paling baik dicapai dengan cara saling mendukung satu sama lain. Waktu akan sangat epektif karena masing-masing sangat memahami dan tidak mencari keuntungan di atas anggota yang lain.

B. Semua anggota tim ikut merasa memiliki pekerjaan dan organisasinya karena mereka memiliki komitmen pada sasaran yang akan dicapai.

C. Anggota memiliki kontribusi terhadap keberhasilan organisasi.

D. Anggota bekerja dalam suasana saling percaya dan didorong untuk mengungkapkan ide atau pendapat, ketidak setujuan, serta mencetuskan perasaan secara terbuka. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul disambut dengan baik.

E. Anggota menjalankan komunikasi dengan tulus, mereka saling memahami sudut pandang masing-masing.

F. Para anggota didorong untuk menambah keterampilan dan menerapkannya dalam tim, mereka menerima dukungan penuh dari tim.

G. Mereka menyadari bahwa konplik dalam tim merupakan hal yang wajar, karena dengan konplik merupakan kesempatan untuk mengembangkan ide dan kreatifitas. Apabila terjadi konplik akan diselesaikan secara konstruktip.

H. Anggota berpartisipasi aktip dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi tim, meskipun mereka menyadari bahwa keputusan tetap berada ditangan pimpinan apabila tim menemui jalan buntu. Tujuannya adalah untuk memperoleh hasil yang positif.

Kita sedikit merepleksi apa yang terjadi selama ini di Pengadilan Agama, apakah sudah mencerminkan sebagai sebuah tim yang epektif? Atau belum? Jikalau belum marilah kita sama-sama menjadikan Pengadilan Agama sebagai sebuah kantor yang diisi oleh sebuah tim yang epektif dan solid dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Semua unsur yang ada di Pengadilan Agama haruslah menjadi sebuah tim yang epektif, demi mencapai hasil yang baik dan lancar dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Brand, service, dan procces secara interaktif dan kumulatif merupakan nilai-nilai utama yang harus tercermin dalam diimplementasikan sehari-hari di Pengadilan Agama, demi kembalinya citra positif pengadilan di mata masyarakat dan terciptanya pelayanan prima kepada masyarakat, dan secara berkelanjutan bisa survive dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya. (*Staf Keuangan Pengadilan Agama Garut)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: